HOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA PERTOBATAN DAN KETAATAN Dua orang sahabat (si A dan si B) yang telah lama tidak berjumpa, bercakap-cakap: “Jadi kau sudah bertobat dan menjadi pengikut Kristus?”, tanya si A. “Ya, aku sekarang pengikut Kristus.” jawab si B. “Kalau begitu tentu kamu tahu banyak tentang Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan?” “Aku tidak tahu” jawab si B. “Berapa usiaNya waktu Ia wafat?”, tanya si A lagi. “Aku juga tidak tahu”, jawab si B. Sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda heran, si A kemudian berkata, ”Untuk orang yang menyatakan diri telah bertobat dan menjadi pengikut Kristus, pengetahuanmu sedikit sekali, teman.” Namun si B berkata, “Kau memang benar, aku malu karena begitu sedikit pengetahuanku tentang Yesus Kristus, tetapi sekurang-kurangnya aku tahu hal ini: Setahun yang lalu, aku seorang pemabuk, hutangku banyak untuk berjudi, anak-istriku selalu takut kepadaku setiap kali aku pulang, Tetapi sekarang aku tidak minum-minum lagi, hutangku lunas karena aku tidak berjudi lagi, dan anak istriku dengan sukacita menantiku pulang ke rumah setiap hari. Itu semua terjadi karena aku merasakan kasih Yesus yang luar biasa dalam hidupku.” Kata pertobatan dan tobat dalam Alkitab disebutkan lebih dari 100 kali. Itu artinya masalah pertobatan ini adalah masalah yang penting yang harus kita perhatikan dengan serius. Arti Pertobatan Menurut Kristen Arti Pertobatan yang Sesungguhnya Menurut Agama Kristen: Lebih dari Sekadar Menyesal Di dalam perjalanan iman Kristen, kata "tobat" atau "pertobatan" tentu sangat sering kita dengar. Namun, sering kali makna pertobatan ini mengalami penyempitan. Banyak yang mengira bahwa bertobat hanyalah sebuah ungkapan rasa bersalah, tangisan penyesalan di Gereja, atau sekadar ucapan maaf kepada Tuhan saat kita melakukan kesalahan. Apakah esensi pertobatan di dalam Alkitab memang sesederhana itu? Jika kita menggali lebih dalam esensi firman Tuhan, pertobatan sejati memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Pertobatan bukan sekadar emosi sesaat, melainkan sebuah keputusan yang mengubah seluruh arah hidup. Mari kita pelajari bersama apa arti pertobatan yang sesungguhnya menurut iman Kristen. 1. Arti Kata Pertobatan dalam Bahasa Asli Alkitab (Metanoia) Untuk memahami konsep ini dengan tepat, kita perlu melihat bahasa asli yang digunakan dalam Perjanjian Baru, yaitu bahasa Yunani. Kata pertobatan diterjemahkan dari kata Metanoia (metanoia). Secara harfiah, Metanoia terdiri dari dua kata : meta (berubah/berbalik) dan noieo (berpikir). Jadi, pertobatan berarti perubahan pikiran. Ini bukan sekadar perubahan pikiran yang biasa, melainkan perubahan paradigma yang mendasar. Seseorang yang mengalami metanoia akan mulai melihat dosa dengan cara pandang Tuhan—yaitu sesuatu yang keji dan merusak—sehingga ia memutuskan untuk tidak lagi mencintai dosa tersebut. 2. Perbedaan Antara Menyesal dan Bertobat Alkitab mencatat perbedaan yang sangat jelas antara rasa sesal yang semu dan pertobatan yang sejati. Kita bisa belajar dari dua tokoh murid Yesus: Yudas Iskariot dan Petrus. Yudas Iskariot (Penyesalan) : Setelah mengkhianati Yesus, Yudas merasa sangat menyesal. Namun, penyesalannya berpusat pada diri sendiri dan rasa frustrasi, hingga membawanya pada keputusasaan dan kematian (Matius 27:3-5). Petrus (Pertobatan) : Petrus juga jatuh dalam dosa karena menyangkal Yesus tiga kali. Ia menangis dengan sedih (menyesal), tetapi ia berbalik kembali kepada Yesus, menerima pengampunan-Nya, dan berkomitmen penuh menggembalakan jemaat-Nya. Menyesal hanya melibatkan emosi, sedangkan bertobat melibatkan kehendak untuk berubah dan berbalik kepada Allah. 3. Ciri-Ciri Pertobatan yang Sejati Menurut Alkitab Bagaimana kita tahu bahwa seseorang (atau diri kita sendiri) telah benar-benar bertobat? Alkitab memberikan beberapa indikator yang jelas: Mengakui Dosa dengan Jujur: Pertobatan dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui kesalahan di hadapan Tuhan tanpa mencari alasan atau pembenaran diri (1 Yohanes 1:9). Berbalik 180 Derajat : Anda dalam kondisi sedang berjalan menjauhi Tuhan, lalu berbaliklah, berjalan mendekat kepada Tuhan. Anda meninggalkan jalan yang lama. Menghasilkan Buah Pertobatan : Yohanes Pembaptis dengan tegas mengatakan, "Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (Matius 3:8). Artinya, pertobatan harus terlihat lewat perubahan karakter, tutur kata, dan tindakan sehari-hari yang memuliakan Tuhan. Penghalang Pertobatan Mengapa sulit bagi sebagian besar orang untuk bertobat? Mengapa setiap kali injil diberitakan, ada orang-orang yang bertobat dan ada juga orang-orang yang tidak bertobat? Alkitab telah mengatakan kepada kita melalui perumpamaan tentang penabur benih (Luk.8:5-15). Setiap kali benih ditaburkan, yaitu injil keselamatan, benih itu jatuh di jenis tanah. Dan, jenis tanah itu menggambarkan jenis respon hati yang berbeda-beda yang ditunjukan oleh setiap orang yang mendengarkan Injil. Tanah di pinggir jalan. Menggambarkan mereka yang duduk dalam kebaktian, namun tidak mendengarkan kebenaran Injil. Atau mungkin mereka mendengar tapi tidak mau menerima firman. Yang menghalangi kebenaran masuk ke dalam hati mereka adalah kesombongan dan ketidakpercayaan mereka sendiri. Tanah berbatu-batu. Mendeskripsikan mereka yang mendengar, menerima kebenaran namun tidak sungguh-sungguh menyimpan di dalam hati mereka. Mereka mengedepankan perasaan mereka ketimbang akal budi dan kebenaran yang mereka ketahui. Tanah bersemak duri. Mereka ini sudah mendengar kebenaran, menerima kebenaran, tetapi mereka tidak mau membayar harga untuk kebenaran. Mereka tidak mau menyingkirkan semua semak duri atau penghalang-penghalang pertumbuhan iman, yakni kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup. Tanah subur Setidaknya ada empat macam pertobatan, yaitu 1. Benar-benar tidak bertobat (Kej 4:1-15 ). Ada kelompok orang yang ketika mendengar peringatan Tuhan, mereka tidak mau bertobat, tetapi justru mengeraskan hati mereka. Kain tidak menyadari bahwa ia telah berdosa karena membunuh adiknya. Bahkan yang ia lakukan justru melawan Tuhan. Sering terjadi ada orang-orang yang tidak mau menyadari kesalahannya dan tidak mau tunduk kepada Tuhan dan menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya melawan kepada Tuhan dan menyakiti hati Tuhan, bahkan sesamanya. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia bahkan mengeraskan hati, melawan kepada firman Tuhan. Ia meremehkan firman Tuhan. Ibr 3:15 , “ Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” 2. Bertobat menyesali perbuatannya, tetapi mengulangi kembali ( 1 Sam 15:1-35 terutama ayat 24-25 ) Saul berbalik dari Allah menyesali perbuatannya tetapi melakukan kejahatan lagi. Ada banyak orang sekarang ini terus melakukan kejahatan dengan perbuatan yang berbeda dengan sebelumnya yang pernah dilakukannya. Inilah pertobatan yang kelihatan menyesali tetapi melakukan lagi, semestinya hal ini jangan dilakukan lagi dan harus menjauhi dosa. 3. Berobat tetapi melakukan langkah yang salah ( Mat 27:1-10) Yudas menyesal atas perbuatannya, tetapi ia gatung diri karena ia tidak bisa menahan malu. Sering terjadi orang bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban yang dipikulnya, orang yang demikian orang yang tidak memiliki iman yang kuat sehingga mencari jalan keluar sendiri dan akhirnya bunuh diri. 4. Bertobat yang menyesali dan berbalik arah kepada Allah. (KPR 13: 22; 1 Taw. 29: 10-14). Kehidupan Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang fatal tetapi Daud mengakui, menyesali dan ia membuka kesalahannya dihadapan rakyatnya dan Tuhan sangat mengasihi Daud sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama bahkan ia meninggalkan perbuatannya lama dan melakukan yang berkenan dihadapan Tuhan di dalam hidupnya. Kisah hidup si B menjadi salah satu contoh pertobatan yang sejati. Ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuannya tentang Kekristenan memang masih sangat terbatas, namun ia mau membuka diri menerima kasih Kristus sehingga ia bertobat. Pertobatannya tidak sekedar pengakuan di mulut, namun diikuti dengan perubahan hidup yang konkret. Ia yang perbuatannya dulu tidak seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak peduli dengan orang lain, kini menjadi seorang yang taat kepada Tuhan. Jadi, pertobatannya membuahkan ketaatan kepada Tuhan dan bisa menjadi berkat untuk orang lain. Kalau kita perhatikan, kehidupan si B berkebalikan dengan kehidupan para pemimpin agama Yahudi, yaitu imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka sangat paham aturan dan ajaran agama, namun di dalam hidupnya tidak ada pertobatan. Hal ini tampak dalam bacaan Injil Matius 21: 23-32. Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi adalah tokoh yang keberadaannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Jabatan sebagai pemimpin agama umat Yahudi melekat dalam diri mereka. Mereka memegang kekuasaan, punya pamor, dan populer. Rupanya mereka sangat bangga dan menikmati semua itu, sehingga mereka menjadi arogan. Aturan-aturan agamawi yang detail mereka pelajari, merka kuasai, perhatikan dan berlakukan. Tidak jarang, berbagai aturan yang detail itu justru mereka gunakan untuk menghakimi dan menjatuhkan orang lain; untuk dengan mudah menuding orang lain dosa atau tidak. Dengan cara itu mereka hendak menampakkan diri sebagai orang yang suci dan saleh. Mereka menunjuk dosa orang lain, sementara diri sendiri merasa suci sehingga tidak memerlukan pertobatan. Orang lain dipandang secara rendah, sedangkan mereka sendiri tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Hal itulah yang membuat mereka menolak kehadiran Yohanes Pembaptis, bahkan menolak Yesus sendiri. Untuk menegur mereka, maka Yesus menceritakan perumpamaan mengenai seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki (Matius 21:28-32). Kedua anak itu dimintanya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menyatakan kesediaannya dengan menjawab, "Ya" atas permintaan bapaknya. Sedangkan sang adik dengan tegas mengatakan, "Tidak!" Namun, apa yang terjadi kemudian? Jawaban "Ya" dari anak yang pertama ternyata dalam praktiknya tidak dikerjakan. Ia tidak pergi ke kebun anggur ayahnya itu. Sedangkan anak kedua awalnya menolak tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan perintah ayahnya. Anak pertama dalam perumpamaan itu menunjuk pada para pemimpin agama Yahudi. Mereka sudah menganggap diri paling benar, paling ahli dalam pengetahuan tentang ajaran agama, namun mereka tidak mengerjakan kehendak Allah. Ketaatan mereka adalah ketaatan yang semu. Sebab mereka taat hanya untuk memperlihatkan bahwa mereka orang yang saleh, agar mereka dipuji orang dan menjadi populer. Mereka terlihat taat namun ketaatan itu tidak disertai dengan kerendahan hati, sebab mereka merasa diri sebagai orang yang suci, yang tidak perlu bertobat. Ketaatan mereka hanya sebatas kata-kata, namun tidak mewujud dalam Tindakan nyata yang seturut kehendak Allah. Ketaatan mereka semu, tanpa kerendahan hati dan tidak disertai perilaku yang seturut kehendak Tuhan. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya di dalam diri mereka tidak ada pertobatan yang sejati. Tuhan yang penuh kasih setia selalu memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat, sehingga umat mendapatkan anugerah keselamatan. Dalam bacaan I, yaitu Yehezkiel 18:1-4, 25-32, melalui nabi Yehezkel, Tuhan menyerukan kepada bangsa Israel untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada-Nya. Tuhan menawarkan kesempatan untuk hidup dalam kebenaran dan mendapatkan pengampunan jika mereka bertobat. Dan Pemazmur dalam Mazmur 25 sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan yang berharga itu. Dengan dilandasi oleh keyakinan iman dan pengakuan akan kasih setia Tuhan, Pemazmur dengan rendah hati mengakui kelemahan dan dosa-dosanya di hadapan Tuhan, serta memohon Tuhan untuk mengampuni dan memimpinnya. Hal ini menunjukkan kesadaran Pemazmur bahwa ia membutuhkan kasih karunia dan pengampunan Tuhan. Ia juga memohon Tuhan untuk membimbingnya ke jalan yang benar dan mengajarkannya untuk melakukan kehendak Tuhan. Jadi di samping ada pertobatan, juga ada keinginan untuk hidup taat, yaitu hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah di dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus juga ada pertobatan dan ketaatan? Melalui Injil Matius 21:23-32 Tuhan Yesus mengingatkan kita semua agar kita hidup dalam pertobatan yang sejati. Bagaimana hal itu bisa kita lakukan? Jangan sampai kita menjadi orang “Kristen Tanpa Pertobatan” (kita biasa menyebut dengan istilah Kristen KTP), seperti para pemuka agama Yahudi. “Orang Kristen KTP” ketoke memang Kristen, kelihatannya ke gereja, sangat paham firman Tuhan dan aturan-aturan agama. Sayangnya di dalam hidupnya tidak ada pertobatan. Atau merasa diri baik-baik saja karena sudah Kristen dan aktif ke gereja, sampai-sampai tidak merasa perlu bertobat. Keaktifannya ke gereja dan pengetahuannya yang baik tentang aturan agama seolah dijadikan topeng untuk menutupi segala dosa dan pelanggarannya. Akibatnya hanya terlihat saleh namun tidak ada pertobatan. Bukankah memprihatinkan kalau ada orang Kristen seperti ini? Pertobatan yang sejati tidak sekadar pengakuan di mulut atau sebatas ungkapan penyesalan dosa. Kalau dalam setiap ibadah Minggu kita diajak untuk mengaku dosa, lalu kita mengucapkan, “Tuhan, ampunilah kami”, bisa saja itu baru sampai pada sikap “mengaku atau menyesal”, belum sampai pada pertobatan yang sejati. Mengapa? Sebab di dalam pertobatan yang sejati, perlu ada proses pembaruan hidup. Tanpa proses pembaruan hidup, maka seluruh perbuatan baik atau pelayanan yang kita lakukan akan menjadi sia-sia. Apa artinya perbuatan baik dan pelayanan gerejawi yang hebat, tetapi di balik itu dosa masih saja kita lakukan? Dengan kata lain, pertobatan sejati harus disertai dengan ketaatan. Ketaatan para pemimpin agama Yahudi (dalam Matius 21:23-32) dan ketaatan Yesus (disaksikan dalam bacaan II, Filipi 2:1-13) sangatlah kontras. Para pemimpin agama Yahudi menunjukkan ketaatan yang semu, ketaatan yang diwarnai dengan kesombongan. Sedangkan Yesus mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan Yesus adalah ketaatan yang penuh kerendahan hati, bukan pencitraan. Ketaatan yang rendah hati itulah yang harus kita teladani. Mari kita menyadari bahwa keberadaan kita sebagai manusia penuh dengan keterbatasan dan kelemahan, sehingga kita mudah jatuh dalam godaan dosa dan pelanggaran. Kita menyadari bahwa hanya Tuhan yang sanggup untuk menolong kita. Oleh karena itu dengan rendah hati kita harus datang kepada Tuhan dalam pertobatan sejati. Dan selanjutnya, pertobatan harus kita ikuti dengan ketaatan kepada kehendak Kristus. Ketaatan yang rendah hati! Jangan sampai seperti para pemimpin agama Yahudi, sepertinya taat tetapi penuh kesombongan. Sudah merasa diri sebagai orang yang saleh dan benar. Akibatnya tidak membutuhkan pertobatan, dan menolak kasih karunia Tuhan. Apa jadinya? Kita akan jauh dari Kerajaan Allah. Pertobatan dalam agama Kristen bukanlah sebuah hukuman yang menakutkan, melainkan sebuah karunia dan jalan masuk menuju pemulihan hubungan yang indah dengan Sang Pencipta. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna. Yang Tuhan cari adalah hati yang hancur dan mau dibentuk kembali oleh kasih-Nya. Proses ini mungkin tidak terjadi secara instan dalam semalam, melainkan sebuah perjalanan iman sehari-hari (daily repentance) di mana kita terus belajar untuk hidup selaras dengan kehendak Allah Kiranya Tuhan Yesus Sang Juru Selamat menyertai serta memampukan kita,, Amin
Khotbah JANGKEP ING BASA INDONESIA TOBAT LAN TAAT Kanca loro (A lan B) sing wis suwe ora ketemu, padha rembugan: "Dadi sampeyan wis mratobat lan dadi pengikut Kristus?" pitakone A. "Ya, aku saiki dadi pengikut Kristus." wangsulane B. "Yen ngono mesthi kowe ngerti akeh babagan dheweke. Contone, lair ing negara ngendi?" “Ora ngerti,” wangsulane B. “Pinten umuripun nalika seda?” pitakone A maneh. "Aku uga ora ngerti," wangsulane B. Geleng-geleng kepala amarga gumun, A banjur ngandika, "Kanggo wong sing ngaku wis mratobat lan dadi pengikut Kristus, sampeyan ngerti banget, kanca." Nanging B ngandika, "Sampeyan bener, aku isin amarga aku ngerti sethitik bab Gusti Yesus Kristus, nanging paling aku ngerti iki: Setaun kepungkur, aku dadi mendem, aku duwe utang akeh saka gambling, bojoku lan anak-anakku tansah wedi kula saben aku mulih, Nanging saiki aku ora ngombe maneh, utangku wis dilunasi amarga aku ora gamble maneh, lan aku wis teka ngarep lan anak-anakku seneng-seneng. katresnan sing luar biasa saka Gusti Yesus ing uripku." Tembung mratobat lan mratobat ing Kitab Suci disebutake luwih saka 100 kaping.Tegese masalah tobat iku masalah penting sing kudu digatekake kanthi serius. Tegesipun Tobat Miturut Kristen Makna Sejatining Tobat Miturut Kekristenan: Luwih saka Mung Getun Ing lelampahan iman Kristen, kita kerep krungu tembung "mratobat" utawa "tobat". Nanging, asring makna tobat kasebut sempit. Akèh wong sing nganggep nèk mratobat kuwi mung nduduhké kaluputan, tangis getun ing Gréja, utawa mung matur nuwun marang Gusti Allah nèk awaké dhéwé nggawé kesalahan. Apa inti saka mratobat ing Kitab Suci pancen prasaja? Menawi kita nyumerepi langkung rumiyin inti saking pangandikanipun Gusti, pamratobat ingkang leres menika gadhah teges ingkang langkung lebet. Tobat ora mung emosi sedhela, nanging keputusan sing ngganti kabeh arah urip. Ayo padha sinau apa tegese mratobat sejati miturut iman Kristen. 1. Makna tembung mratobat ing basa asliné Alkitab (Metanoia) Kanggo ngerti konsep iki kanthi bener, kita kudu ndeleng basa asli sing digunakake ing Prajanjian Anyar, yaiku basa Yunani. Tembung mratobat dijarwakake saka tembung Metanoia (metanoia). Secara harfiah, Metanoia dumadi saka rong tembung: meta (ganti / nguripake) lan noieo (mikir). Dadi, mratobat tegese owah-owahan pikiran. Iki ora mung owah-owahan prasaja, nanging owah-owahan paradigma dhasar.Wong sing ngalami metanoia bakal wiwit ndeleng dosa saka sudut pandang Gusti Allah - yaiku, sing ala lan ngrusak - mula dheweke mutusake ora nresnani dosa kasebut maneh. 2. Bedane Getun lan Tobat Kitab Suci nyathet prabédan sing jelas antara penyesalan palsu lan pamratobat sing sejati. Kita isa sinau saka rong tokoh saka muridé Yésus: Yudas Iskariot lan Pétrus. Yudas Iskariot: Sakwisé ngianati Yésus, Yudas krasa getun banget. Nanging, rasa getun dheweke mung mandhiri lan frustasi, sing nyebabake dheweke ora kentekan niat lan pati (Matius 27:3-5). Pétrus (Mertobat): Pétrus uga nandhang dosa merga nyélaki Yésus ping telu. Dhèwèké nangis kelara-lara (kéné), nanging dhèwèké bali manèh marang Gusti Yésus, nampa pangapurané, lan setya banget kanggo angon jemaahé. Getun mung kalebu emosi, nalika mratobat kalebu kepinginan kanggo ngganti lan mratobat marang Gusti Allah. 3. Ciri-ciri Tobat Sejati Miturut Kitab Suci Piyé carané awaké dhéwé ngerti nèk ana wong (utawa awaké dhéwé) wis bener-bener mratobat? Kitab Suci nyedhiyakake sawetara indikator sing jelas: Ngakoni Dosa kanthi Jujur: Tobat diwiwiti kanthi andhap asor kanggo ngakoni kesalahan ing ngarsane Gusti Allah tanpa golek alesan utawa mbenerake awake dhewe (1 Yokanan 1:9).Nguripake 180 Derajat: Sampeyan mlaku adoh saka Gusti Allah, banjur nguripake lan mlaku nyedhaki Gusti Allah. Sampeyan ninggalake dalan lawas. Ngeculake Woh Pamratobat: Yohanes Pembaptis kanthi tegas kandha, ”Wah woh sing pantes kanggo mratobat” (Matius 3:8). Tegesipun mratobat kedah dipuntingali lumantar ewah-ewahaning budi pekerti, wicanten lan tumindak saben dinten ingkang ngluhuraken Gusti. Rintangan kanggo Tobat Apa sebabé akèh wong angel mertobat? Apa sebabe saben-saben Injil diwartakake, ana wong sing mratobat lan uga ana sing ora? Kitab Suci wis ngandhani kita liwat pasemon babagan nyebar wiji (Lukas 8:5-15). Saben wiji disebar, yaiku Injil kaslametan, tiba ing lemah. Lan, jinis lemah nggambarake macem-macem jinis respon jantung sing dituduhake saben wong sing ngrungokake Injil. Tanah ing pinggir dalan. Nggambaraké wong-wong sing njagong ing layanan, nanging ora krungu bebener saka Injil. Utawa bisa uga padha krungu nanging ora pengin nampa tembung. Sing ngalang-alangi bebener mlebu ing atine yaiku angkuh lan ora percaya. Lemah watu. Nggambaraké wong sing krungu, nampa bebener nanging ora bener nyimpen ing atine. Padha ngutamakake raos sadurunge nalar lan bebener sing padha ngerti.Tanah eri. Iki wis krungu bebener, nampa bebener, nanging padha ora gelem mbayar rega kanggo bebener. Dheweke ora pengin nyingkirake kabeh eri utawa alangan kanggo tuwuhing iman, yaiku kuwatir, bandha lan kanikmatan urip. Tanah subur Paling ora ana papat jinis tobat, yaiku 1. Babar pisan ora mratobat (Pd. 4:1-15). Wonten golongan tiyang ingkang nalika mirengaken piwelingipun Gusti, boten purun mratobat, nanging malah mangke manahipun. Kain ora ngerti nèk dhèwèké wis gawé dosa merga matèni seduluré. Nyatane, apa sing ditindakake dheweke pancen nglawan Gusti Allah. Asring kedadean yen ana wong sing ora gelem ngrumangsani kesalahane lan ora gelem pasrah marang Gusti Allah lan sadar yen sing dilakoni iku nglawan Gusti Allah lan nglarani Gusti, malah marang tanggane. Wong sing kaya ngono kuwi wong sing ora gelem mratobat. Malah mantep atine, nglawan pangandikane Gusti. Dheweke ngremehake pangandikane Gusti Allah. Ibrani 3:15, "Nanging manawa ana pangandikane: "Dina iki, manawa kowe krungu swarane, aja padha mangkokake atimu kaya nalika nepsu." 2. Mratelakake, getun tumindak kasebut, nanging mbaleni maneh (1 Sam 15:1-35 utamane ayat 24-25) Saul nyingkur marang Gusti Allah amarga getun marang tumindake, nanging tumindak ala maneh.Saiki akeh wong sing terus-terusan nindakake kadurjanan kanthi tumindak sing beda karo sing sadurunge. Iki mratobat sing katon kaya sampeyan getun nanging nindakake maneh, sampeyan ora kudu nindakake iki maneh lan sampeyan kudu adoh saka dosa. 3. Nggoleki perawatan nanging njupuk langkah sing salah ( Matéus 27:1-10 ) Yudas getun marang tumindake, nanging dheweke gantung diri amarga ora bisa nahan isin. Asring kedadean wong mati lampus amarga ora bisa nanggung beban sing ditanggung, wong sing kaya ngono kuwi ora kuwat imane mula golek dalan metu lan pungkasane lampus. 4. Tobat sing getun lan mratobat marang Allah. ( KPR 13:22; 1 Babad 29:10-14 ). Ing gesangipun Prabu Dawud piyambakipun nindakaken kesalahan fatal nanging Dawud ngakoni, getun lan mbukak kesalahane ing ngarepe umate lan Gusti Allah tresna banget marang Dawud amarga dheweke ora pengin nindakake perkara sing padha, malah ninggalake tumindak lawas lan nindakake apa sing ndadekake keparenge Gusti ing uripe. Riwayat uripe B dadi tuladhane tobat kang sejati. Ana andhap asor kanggo ngakoni yen kawruh babagan agama Kristen isih winates banget, nanging dheweke gelem mbukak awake dhewe kanggo nampa katresnan Kristus supaya dheweke mratobat. Konversi dheweke ora mung pengakuan lisan, nanging diterusake kanthi owah-owahan urip sing konkrit.Wong kang sadurunge tumindake ora manut karsane Gusti lan ora nggatekake marang wong liya, saiki wis dadi wong kang manut marang Gusti. Dadi, pamratobate njalari manut marang Gusti lan bisa dadi berkah kanggo wong liya. Yen digatekake, uripe B iku kosok balene karo uripe para pemimpin agama Yahudi, yaiku para pangareping imam lan sesepuh bangsa Yahudi. Dheweke pancen ngerti aturan lan ajaran agama, nanging ing uripe ora ana tobat. Kuwi isa didelok ing waosan Injil Matius 21:23-32 . Para pangareping imam lan pinituwa bangsa Yahudi minangka tokoh sing ora bisa disepelekake. Posisi wong-wong mau minangka pimpinan agama saka wong-wong Yahudi ana ing dheweke. Dheweke duwe kekuwatan, duwe prestise, lan populer. Pranyata padha gumunggung lan seneng kabeh iku, nganti padha umuk. Dheweke sinau aturan agama sing rinci, nguwasani, mirsani lan ngetrapake. Ora arang, padha bener nggunakake macem-macem aturan rinci kanggo ngadili lan nggawa mudhun wong liya; gampang nuduh wong liya dosa apa ora. Kanthi cara iki wong-wong mau bakal katon minangka wong suci lan mursid. Dheweke nuduhake dosane wong liya, dene awake dhewe rumangsa suci lan ora perlu mratobat. Wong liya diremehake, dene awake dhewe ora gelem ngasorake awake dhewe ing ngarsane Gusti Allah.Kuwi sing njalari wong-wong mau nolak anané Yohanes Pembaptis, malah nolak Yésus dhéwé. Kanggo ngukum wong-wong mau, Yésus nyritakaké pasemon bab bapak sing duwé anak lanang loro (Matius 21:28-32). Dhèwèké ngongkon bocah loro mau nyambut gawé ing kebon anggur. Anak kapisan mratelakake kekarepane kanthi mangsuli, "Iya" marang panjaluke bapake. Sauntara kuwi, adhine kanthi mantep kandha, "Ora!" Nanging, apa sing kedadeyan sabanjure? Wangsulan "Iya" saka bocah pisanan ternyata prakteke ora rampung. Dheweke ora lunga menyang kebon anggur bapake. Sauntara kuwi, bocah nomer loro wiwitane ora gelem nanging banjur getun lan banjur nindakake dhawuhe bapake. Putra kapisan ing perumpamaan kasebut nuduhake para pemimpin agama Yahudi. Dheweke nganggep awake dhewe minangka wong sing paling bener, sing paling ahli ing kawruh babagan ajaran agama, nanging ora nindakake karsane Gusti. Ketaatan dheweke yaiku ketaatan palsu. Amarga padha manut mung kanggo nuduhake yen dheweke iku wong sing taqwa, supaya dheweke dialem dening wong lan dadi populer. Padha katon manut, nanging ketaatan iki ora dibarengi karo andhap asor, amarga dheweke rumangsa dadi wong suci, sing ora perlu mratobat. Anggone mituhu mung winates ing pangandikan, nanging ora kawujud ing tumindak nyata kang manut karsane Gusti. Tindak-tanduke iku luput, tanpa andhap asor lan ora dibarengi tumindak kang manut karsane Gusti.Iki nuduhake yen nyatane ora ana tobat sing sejatine. Gusti Allah kang kebak katresnan kang setya tansah paring kalodhangan marang umate kanggo mratobat, supaya manungsa bisa nampa peparing karahayon. Wonten ing waosan I, inggih punika Yeheskiel 18:1-4, 25-32, lumantar nabi Ezekel, Gusti Allah nimbali bangsa Israel supados mratobat saking dosanipun lan mratobat dhateng Panjenenganipun. Gusti Allah menehi kesempatan kanggo urip kanthi bener lan nampa pangapura yen mratobat. Lan Juru Masmur ing Jabur 25 pancen nggunakke kesempatan sing aji kuwi. Adhedhasar iman lan ngakoni katresnané Gusti Allah sing setya, Juru Masmur kanthi andhap asor ngakoni kekirangan lan dosané ing ngarsané Gusti Allah, lan nyuwun ngapura lan nuntun Gusti. Iki nuduhake kesadaran Juru Mazmur yen dheweke butuh sih-rahmat lan pangapurane Gusti. Dhèwèké uga nyuwun marang Gusti Allah supaya nuntun dhèwèké menyang dalan sing bener lan mulang dhèwèké nindakké kersané Gusti Allah. Dadi saliyane tobat, uga ana kepinginan kanggo urip manut, yaiku urip manut kersane Gusti lan manut dalane. Kepiye babagan kita? Apa ana uga mratobat lan manut ing gesang kita minangka pandherekipun Sang Kristus? Lumantar Injil Matius 21:23-32 Gusti Yesus ngengetaken dhateng kita sedaya supados gesang wonten ing mratobat ingkang saestu. Kepiye carane bisa nindakake?Aja nganti kita dadi "Kristen Tanpa Tobat" (biasane kita sebut Kristen KTP), kaya tokoh agama Yahudi. Ketoke “KTP Kristen” kuwi pancen wong Kristen, jebule menyang greja, ngerti tenan firman Allah lan aturan agama. Sayange ing uripe ora ana tobat. Utawa sampeyan rumangsa ora apa-apa amarga sampeyan wis dadi Kristen lan aktif menyang pasamuan, mula sampeyan ora perlu mratobat. Dheweke aktif ing pasamuwan lan kawruh sing apik babagan aturan agama kaya-kaya digunakake minangka topeng kanggo nutupi kabeh dosa lan pelanggaran. Akibate mung katon alim nanging ora ana tobat. Apa ora kuwatir yen ana wong Kristen sing kaya ngono? Tobat sing sejati ora mung ngakoni kanthi lisan utawa mratelakake rasa getun tumrap dosa-dosane. Menawi ing saben kebaktian Minggu kita kadhawuhan ngakeni dosa-dosa kita, lajeng ngucap, “Gusti, mugi karsaa ngapunten”, saged ugi sampun dumugi sikap “ngakoni utawi getun”, dereng dumugi tobat ingkang saestu. Kenging punapa? Amarga ing mratobat sejati, perlu ana proses nganyari urip. Tanpa proses nganyari urip, kabeh tumindak apik utawa layanan sing kita tindakake bakal muspra. Punapa tegesipun nindakaken tumindak ingkang sae lan ngabdi ingkang agung, ananging ing salebeting punika kita taksih nglampahi dosa? Ing tembung liya, tobat sing sejati kudu dibarengi karo ketaatan.Ketaatan para pemimpin agama Yahudi (ing Matius 21:23-32) lan ketaatan marang Gusti Yesus (disekseni ing wacan II, Filipi 2:1-13) pancen kontras banget. Para pemimpin agama Yahudi nduduhké ketaatan sing palsu, ketaatan sing diwarnai sombong. Sauntara kuwi, Gusti Yesus ngosongake awake dhewe lan manut nganti seda ing kayu salib. Ketaatan Yesus yaiku ketaatan sing kebak andhap asor, dudu gambar. Iku manut andhap asor sing kudu kita tiru. Sumangga kita mangertosi bilih gesang kita minangka manungsa punika kebak watesan lan kekirangan, saengga kita gampil kecemplung ing panggodha dosa lan pelanggaran. Awaké dhéwé ngerti nèk mung Gusti Allah sing bisa nulungi awaké dhéwé. Mula kita kudu andhap asor sowan ing ngarsaning Allah kanthi mratobat kang sejati. Lan sabanjure, kita kudu ngetutake pamratobat kanthi manut kersane Sang Kristus. Manut andhap asor! Aja kaya para pemimpin agama Yahudi, sing katon manut, nanging kebak kumingsun. Wis rumangsa dadi wong sing taqwa lan mursid. Akibaté ora mbutuhake mratobat, lan nolak sih-rahmaté Gusti Allah. Apa sing kedadeyan? Kita bakal adoh saka Kratoné Allah. Tobat ing agama Kristen dudu paukuman sing medeni, nanging minangka hadiah lan cara kanggo mulihake hubungan sing apik karo Sang Pencipta. Gusti Allah ora nggoleki wong sing sampurna, amarga ora ana sing sampurna.Sing digoleki Gusti Allah yaiku ati sing remuk lan pengin dibentuk maneh dening katresnane. Proses iki bisa uga ora kedadeyan langsung ing wayah wengi, nanging minangka lelampahan iman saben dina (pertobat saben dina) ing ngendi kita terus sinau kanggo urip selaras karo kersane Gusti. Muga-muga Gusti Yésus Juru Slamet nunggil karo kita lan mberkahi kita, Amin
Dianggap bahwa pengguna yang mengunjungi situs web ini telah menerima Ketentuan Layanan dan Kebijakan Privasi. Di situs web (terjemahaninggris.com), pengunjung mana pun dapat memiliki bagian seperti forum, buku tamu, tempat mereka dapat menulis. Kami tidak bertanggung jawab atas konten yang ditulis oleh pengunjung. Namun, jika Anda melihat sesuatu yang tidak pantas, beri tahu kami. Kami akan melakukan yang terbaik dan kami akan memperbaikinya. Jika Anda melihat sesuatu yang salah, hubungi kami di →"Kontak" dan kami akan memperbaikinya. Kami dapat menambahkan lebih banyak konten dan kamus, atau kami dapat mencabut layanan tertentu tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pengunjung.
Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)